Saturday, May 26, 2012

A Dammit Cheater Guy (Part 1)

Posted by Sarah Karinda at Saturday, May 26, 2012 0 comments Links to this post

Wisnu

Jadi laki-laki itu harus tegas. Berkali-berkali ibu selalu mengatakan itu kepada saya. Nggak boleh plin-plan. Iya ya iya, enggak ya enggak. Jangan di tengah-tengah.
Umur saya sudah 29 tahun, jadi saya sudah mengerti benar definisi dari kalimat itu. Dan betapa dalamnya makna yang ada dari kalimat sesingkat itu. Pun ibu saya memang cerdas sekali, kalimat yang kata ibu harus menjadi pedoman saya selama hidup itu memang tokcer membuat hidup saya menjadi lebih mulus. Baik pendidikan, karir, percintaan.
Eitss…. Tunggu sebentar. Percintaan?
Percintaan saya tidak mulus-mulus amat.
Iya sih, saya memang tengah menjalin asmara dengan Nadia, fashion designer, cantik, menarik, dengan senyum lesung pipitnya yang mampu menarik hati semua pria yang ada di dunia ini dan idealismenya untuk membuat baju-baju yang chic dan tetap seksi tanpa perlu menunjukkan bagian tubuh.
Hubungan kita sudah berjalan kira-kira dua tahun.
I’m about to purpose her, dan rencana saya untuk survey pesta pernikahan dengan nekat sendirian datang ke pesta pernikahan—biasanya kemana-mana saya selalu mengajak Nadia, tapi berhubung saya sedang survey acara pesta pernikahan makanya kali itu saya sendirian—tiba-tiba membuat semuanya malah jadi kacau balau.
Menurut saya sih pestanya terlalu meriah, jadi saya mencoret model pernikahan seperti itu dari daftar saya dan memilih untuk keluar sejenak dan merokok.
Dan kamu harus tahu, keputusan untuk keluar sejenak dan merokok itu merupakan keputusan yang paling saya sesali sampai saat ini.
Karena entah bagaimana Tuhan merencanakannya, semesta menakdirkan saya untuk bertemu dengan Dwina.
Perempuan yang wajahnya sampai saat ini tidak pernah bisa lepas dari kepala saya.
Dammit.
Wajah cewek itu nggak pernah bisa lepas dari kepala saya. Jadi kamu tahu, ketika akhirnya saya memutuskan untuk bertemu dengannya lagi, saya berdoa kepada Tuhan, berdoa dengan sungguh-sungguh, semoga semua ini cuma gara-gara rasa penasaran keparat. Dan semoga saya ilfil karena dia ternyata punya bulu ketek nggak dicukur, atau gigi berjigong, atau bahwa ternyata dia adalah wanita lacur yang kerjanya cuma ngabisin duit orang tua.
Tapi enggak, doa saya enggak dikabulkan Tuhan. Justru sebaliknya, gigi Dwina malah menghasilkan senyum manis yang unforgettable, atau fakta bahwa dia gadis biasa yang super menyenangkan.
Tidak seperti Nadia, Dwina is so usual. Dia seperti gadis kantoran kebanyakan yang suka mengomel tentang bosnya, dan obsesinya untuk menjadi kurus tapi nggak pernah bisa mengurangi nafsu makannya.
Saat-saat dimana saya merasa harus melamar Nadia malah berbalik menjadi saat-saat dimana saya mulai meragukan cinta saya kepada Nadia.
Ini akan mudah ketika saya masih berumur 20 tahun, tapi, heey, saya sudah 29 tahun. Mau gimana juga saya nggak bisa seenak jidat memutuskan.
For God’s sake. Nadia adalah gadis tanpa cela idaman setiap laki-laki. Saya enggak punya alasan untuk enggak mencintainya.
Tapi, Dwina… Dwina juga nggak pernah bisa lepas dari kepala saya!
Saya sangat takut menghubungi Dwina lagi. Saya takut perasaan saya malah semakin menjadi dan saya semakin kebingungan, padahal, seperti kata Ibu, jadi laki-laki itu harus tegas.
3 hari, saya ketakutan dengan perasaan saya.
3 hari, saya lewati tanpa menghubungi Dwina, maupun Nadia.
Ponsel saya berkedip. Nadia.

From: Nadia
Subject: Hon, sibuk banget ya 3 hari ini? I miss you :(

Saya menjambak rambut saya sendiri.
I miss you too… Dwina.
NAH TUH KAN??? Bahkan dalam hati saja saya bilang saya kangen Dwina.
Saya selingkuh ya? Kalian jangan ngeliatin saya kayak gitu dong! Nggak tahu apa saya lagi ketakutan gini!

***

Nadia

Living with Wisnu will be awesome, we're gonna buy a little house, having two kids, boy and girl, and we're gonna spend our time playing with them both.
That's heaven.
Setidaknya hal itulah yang awalnya saya pikirkan. Sederhana, indah, menakjubkan. Namun, siapa sangka akhirnya ternyata saya berakhir menyedihkan di kamar hotel ini sendirian?

Wisnu Calling.....
Reject.
Wisnu Calling....
Reject.
You received 1 new message.

From: Wisnu
Hon, kamu dimana? Jangan bikin aku khawatir gini, kabarin dong hon...
Deleting message.

From: Wisnu
NADIA, BALES SMS AKU!!

Saya mematikan ponsel, segera, dan memutuskan untuk tidur, dengan mata yang sembab dan sudah pegal gara-gara kebanyakan menangis. Memeluk guling dengan hati teriris.
Hal terakhir yang saya inginkan adalah memimpikan Wisnu malam ini, iya, Wisnu, the guy (I thought) will be the center of my life. The only guy I want to be with at the rest of my life.
Please, biarkan saya tidur nyenyak malam ini, jangan datang ke mimpi saya. Please.

Wisnu

From: Dwina
Subject: Just asking, free for tonight? Me want Coto Makassar! :)

Jantung saya serasa mau keluar dari dada. Setelah seminggu perempuan yang bikin saya mabuk kepayang ini nggak terdengar kabarnya, tiba-tiba ia muncul, dan guess what? Coto Makassar? Kemana kata-kata basa basi nan basi semacam ‘apa kabar?’ ‘lagi ngapain?’
Coto Makassar. How it can be real? Karena Coto Makassar adalah makanan favorit saya. Semua warung Coto Makassar di kota ini sudah pernah saya jabanin, dan saya sampai menciptakan rating ala saya sendiri untuk Coto Makassar.
Nadia sedang duduk di depan saya. Cantik, anggun, dan berkharisma seperti biasanya sambil tangannya sibuk mengusap kertas sketch dengan pensil. Saya nggak pernah begitu paham apa yang sedang ia kerjakan, setahu saya, ada tulisan Night Gown disana. Eh… itu artinya gaun malam kan? Entahlah, di kepala saya sih semua baju wanita itu sama saja. Yang bisa membedakan ya cuma mereka sedang pakai baju atau tidak, hehe.
Been busy for a week, for her next runway, Nadia masih menyempatkan untuk bertemu dengan saya. Kalau tidak atas inisiatif Nadia, mungkin kami berdua adalah terrible couple, sibuk dengan kesibukan masing-masing, bekerja sampai rambut rontok, dengan alasan ini-kan-buat-masa-depan dan malah lupa dengan esensi relationship yang sesungguhnya. Mendalami perasaan satu sama lain.
Tapi yang saya tahu, Nadia memang ada di depan saya. Tapi tidak dengan pikirannya. Menghilang entah kemana. Tenggelam dengan dunianya sendiri: desain, pagelaran, butik, dan lain sebagainya.
What are we supposed to do, when something you called ‘quality time’ has no longer quality?

To: Dwina
Subject: Aku tahu satu warung Coto Makassar terenak. It’s like heaven in your mouth. Aku jemput habis maghrib?

From: Dwina
Subject: Can’t wait :))

Saya menatap Nadia yang berada di depan saya sambil menyeruput jus lemon. “Hon, aku nanti malem mau pergi makan Coto sama temen aku, cewek. Is it okay kan?”
Nadia membalas tatapan saya dengan senyum lesung pipitnya yang khas. “Kenapa enggak? Sejak kapan aku melarang-larang kamu?”
Saya pernah membaca artikel tentang batasan selingkuh yang berbeda antara wanita dan pria di sebuah majalah wanita milik teman kantor saya. Waktu itu saya ngetawain habis-habisan artikel itu dan teman saya langsung ngomel betapa pria itu nggak sensitif banget perkara beginian.
Intinya, kalau melihat kriteria dari majalah itu, maka menurut pria, apa yang saya lakukan ini tidak termasuk kategori selingkuh. Saya tidak menggoda dia, saya tidak melakukan hal-hal menjurus, saya bahkan meminta izin pada pacar saya sebelumnya.
Sayangnya, si penulis artikel mungkin tidak tahu bahwa ada faktor ‘kedalaman-perasaan’ dalam artikelnya. Yang berarti walaupun kamu nggak ngapa-ngapain-pun kalo kamu punya perasaan yang dalam kepada orang lain, maka kamu harus mengakui bahwa kamu berselingkuh.
Dan dengan sepenuh hati, I have to admit that I do cheating just right now.
Yes, I’m a jerk. A dammit cheater guy.

To be continued..

Friday, May 25, 2012

Life is All About Choosing

Posted by Sarah Karinda at Friday, May 25, 2012 0 comments Links to this post


Choosing, however simple the choices are, is never really that simple, karena suka atau tidak, choosing is like balancing the idiosyncrasy of ourselves with the mere existence of others. 
Divortiaire, p. 310

Memilih tidak pernah mudah, setidaknya bagi saya. Sejak saya kecil, saya sering plin-plan, tidak tahu bagaimana cara memutuskan. Inginnya semuanya senang, inginnya semua happy, inginnya saya bisa mengakomodasi semua kebahagiaan di hidup ini. Kalau bisa kesusahan diminimalisir sekecil mungkin. Kalau bisa, tidak usah memilih hal yang menyusahkan.
Papah adalah sosok yang paling sering mengingatkan saya tentang habit jelek saya yang satu ini. “Hidup itu memilih,nak.” Berkali-kali papah mengatakan itu kepada saya, dari kecil. “Semua ada resikonya, pilihlah resiko yang paling bisa kamu terima.”
Kalau mamah mengatakan hal lain lagi, “Ragu-ragu itu temennya setan.” Singkat. Padat. Lugas. “Semakin lama kamu ragu, semakin gampang setan buat menggoda kamu.”
Saya sering ragu-ragu. Maka dari itulah kedua orang tua saya sering mengulang hal itu dari saya kecil. Semakin besar, saya semakin memahami dua statement dewa itu. We’re living in the world full of options. Dari bangun tidur saja kita sudah harus memilih, Keramas atau enggak ya pagi ini, kalo keramas, udah buru-buru, nggak sempet ngeringin rambut pula, tapi kalau enggak keramas, rambut udah gatel dan lepek, mana tahan nih!
Sampe kampus, masuk ke kantin, pilihan kembali datang, Mau makan siang dimana? Di luar atau di kantin? Kalau di kantin murah, tapi bosan. Kalau di luar lebih mahal, males lagi keluar-keluar, panas. Tidak berhenti sampai di situ, jika sudah memutuskan makan di kantin masih juga bingung, mau makan apa? Ketoprak, mie ayam, tom yam, pecel, duuuh… pusing!
Itu adalah contoh dari pilihan-pilihan kecil yang setiap hari menghampiri hidup kita. Sialnya oh sialnya, nggak semua pilihan segampang mau memutuskan makan apa di kantin hari ini? Terkadang banyak keputusan penting yang harus diambil seumur hidup kita, yang kita tahu akan berpengaruh secara massive ke kehidupan kita selanjutnya. Memilih mau kuliah jurusan apa, memilih judul skripsi, memilih pekerjaan, memilih pasangan hidup, memilih... memilih…
Takut salah pilih terkadang menjadi dalih bagi kita untuk menunda proses eksekusi pilihan itu. Masih ragu, masih belum mantep, masih ngitung-ngitung nih, masih belum tahu, dan sejuta alasan kita buat untuk meyakinkan diri sendiri.
Entah karena saya benar-benar tidak suka galau lama-lama, tidak betah menimbang-nimbang (karena selama saya menimbang-nimbang itu di saat yang sama saya merasa saya tidak akan pernah puas), tidak menyukai proses memilih yang terlalu lama, maka saya sering menghindari berlama-lama dalam memilih. Kalau tidak suka, saya menghindar, mundur, kalau baik ya ayo. Habit buruk saya, saya sering menghindar simply karena saya males dan nggak nyaman dengan proses menimbang-nimbang itu sendiri. Nah ini nih -_-
Salah satu contoh, kalo lagi mbribik (bisa nggak sih, Sar kasih contoh yang agak elegan gitu, nggak perkara mbribik melulu -_-) Menurut saya, orang yang bribikannya banyak adalah orang yang menyukai proses menimbang-nimbang ini. Entahlah, tapi saya bener-bener enggak ada bakat dalam menimbang-nimbang. Biasanya saya malah pusing sendiri LOL
Tapi setiap orang punya kapasitas mental masing-masing dalam proses pemilihan. Saya tahu, semakin lama saya memilih, semakin besar juga godaan yang akan datang. Dan saya mulai sadar, saya enggak boleh egois, apa yang saya lakukan, memiliki efek juga untuk orang lain dan orang yang lain-lain. Efek Domino. Jadi saya nggak boleh kelamaan plin-plan. Orang plin-plan akan terus berdalih, orang plin-plan akan merugikan orang-orang di sekitarnya.
“Ragu-ragu temennya setan.”
Saya pikir disini letak logisnya istilah ini.
Sayangnya, sebenarnya tidak ada sesuatu yang benar-benar meyakinkan di dunia ini. Siapa saya bisa meramal masa depan? Yah, untungnya saya masih yakin sama Tuhan saya -_- Kalau bisa tidak memilih sih, memang tidak usah memilih. Saya tidak suka memilih, terlebih lagi proses pemilihan itu sendiri yang amit-amit nggak enak banget.
And then here comes the biggest question ever… Apa yang harus kita lakukan jika kita (pikir) kita memutuskan sesuatu yang salah?
Menurut saya, pilihan yang salah itu enggak ada. Karena pada akhirnya, kembali lagi ke statement papah saya, semua pilihan ada resikonya. Pilihan yang lain akan menimbulkan resiko lain, dan juga resiko-resiko lain kedepannya yang tentu saja kita enggak tahu itu apa. Manusia diciptakan defensif, kita akan mengeluarkan cara untuk mengatasi itu dengan sendirinya. Dan hal itulah yang pada akhirnya mendewasakan kita. Bersyukurlah dengan semua pilihan yang mendewasakan itu, pilihan apapun itu. *eciee lagi bijak bok*
Selamat malam :)

Not everything comes along just when we want it. There are times when decisions just have to be made, or you certainly will miss out.
Guinevere Pettigrew - Miss Pettigrew Lives For A Day 

Untuk bilionan pilihan yang besok akan terus menghampiri, selamat datang :)

Thursday, May 24, 2012

Toko Buku = Best Escapism

Posted by Sarah Karinda at Thursday, May 24, 2012 0 comments Links to this post

Saya sangat suka pergi ke toko buku. Jika sedang bete, saya biasanya menjadikan toko buku sebagai eskapisme dari kebetean saya. Saya akan betah nongkrong disana berjam-jam sampai bete saya mereda, sampai pikiran saya teralih oleh tumpukan buku di rak-rak toko buku itu.
Yup, bookstore is a little piece of heaven.
Entahlah, tapi banyak sekali hal menyenangkan yang bisa saya temukan di toko buka. Bagi saya, seluruh sudut toko buku itu sangat menyenangkan untuk ditongkrongin. Sangat menyenangkan untuk berimajinasi tentang banyak hal.
Ke rak Novel, dijamin saya betah ngebacain sinopsisnya satu-satu. Ke rak Buku Anak, kebayang besok punya anak terus beliin dia salah satu dari buku-buku ini. Ke Resep Masakan, jangan tanya, bagian toko buku yang paling betah saya tongkrongin ya bagian buku resep-resep masakan. Antara pengen bikin sama pengen makan sih. Saya pernah dimarahin satpam Gramedia gara-gara ndelosor dengan pewenya di lantai Gramedia, mantengin buku-buku resep -_
Terus ke rak Komik, liat komik Smurf, rasanya pengen beli semua serinya, sayang komik Smurf itu mahal T_T, ke rak Interior, langsung berimajinasi yang iya-iya tentang future house (bukan tidak-tidak, diaminin aja, makanya iya-iya aja, bukan tidak-tidak .__.), ke rak Komputer dan Teknologi, mumet, rasanya kayak masuk ke dunia transformers *saya paling nggak betah si di section ini, dalam sekejap langsung ngacir ke rak lain*, ke rak Kebudayaan, pandangan mata langsung tertuju ke buku Primbon (ini beneran, sumpah buku Primbon itu lucu! Kalian harus baca!), ke rak buku Komunikasi, langsung inget tugas-tugas yang numpuk, berakhir ke rak Al Quran… langsung kebayang dosa-dosa duniawi, terus khilaf karena hedon buku.
*nunduk sambil mainan tanah*
Saya suka sekali ke toko buku. Dan sialnya, toko buku sangat bisa bikin saya jadi impulsif. Tahan beli baju, gampang. Tahan beli tas, gampang. Tahan beli sepatu, lumayan. Tahan beli buku… NYERAH! SUSAH BANGET! Dan tadi sore, atas nama perasaan yang lagi bete berat dan uring-uringan, saya berakhir dengan beli dua buku. Yang satu novel fiksi, yang satu Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3! Meeen, yang volume 3 udah keluar, mana bisa saya enggak beli!
Lupa kalo sekarang tanggal tua -___-
Kalau saya sedang ada di toko buku, saya bisa lupa diri. Karena itulah saya paling suka sendirian kalau pergi ke toko buku. Rasanya seperti bisa berpindah-pindah dunia, dari satu dunia ke dunia lain, dari satu rak ke rak lain. Masalah rasanya keslamur ilang, yah walaupun abis keluar dari toko buku masalahnya mbalik lagi -_-
Dan saya bisa benar-benar sampai lupa diri, saya pernah nangis sampe mbrambangi gara-gara baca buku anak-anak di Gramedia. Masih inget banget, bukunya warna pink, gede, judulnya I Love You, Mom. Saya mbrambangi, nangis. Sumpah nggak bohong. Tapi beneran bukunya itu unyu banget :’’(
Sore ini, dengan perasaan bete carut marut--entah karena PMS atau apa ini--akhirnya saya (lagi-lagi) melarikan diri ke toko buku. Walaupun pulang dengan membawa dua buku hasil kekhilafan, tapi… I never regret it. Buku itu narkoba buat saya. Nagih. Kalau buat buku, saya enggak masalah jadi hedon :P

Setiap orang punya eskapisme sendiri ketika sedang suntuk. Ya, buat saya tempat itu adalah toko buku.
Sesederhana itu.

Wednesday, May 23, 2012

Karena Lagu Anak adalah Representasi Kehidupan Mbribik

Posted by Sarah Karinda at Wednesday, May 23, 2012 1 comments Links to this post

lagu anak milik semua kalangan!
Waktu dulu saya kecil saya sangat suka menyanyi. Kata mamah saya, enggak di mobil, enggak di jalan, saya pasti bersenandung. Saya hafal semua lagu anak-anak. Bahkan waktu kecil saya paling pede kalo disuruh nyanyi di depan banyak orang.
Tapi sudahlah, itu masa lalu. Tidak usah diingat-ingat. Saya percaya saya harus move on dari kebahagiaan dan keceriaan masa lalu itu *menyadari kualitas vokal sendiri seiring berjalannya waktu* Tenang, saya masih suka nyanyi kok… di kamar mandi tapi.
Lagu anak-anak itu menyenangkan. Lirik-liriknya sederhana, nadanya pun mudah dinyanyaikan. Selain itu penuh dengan pesan moral yang lucu.
Namun beranjak dewasa, saya menyadari bahwa makna dari lagu-lagu anak tidak lagi sesederhana dulu. Lagi-lagi, selo bisa terjadi dimanapun, maka saya bersama seorang sahabat saya, pernah dengan selonya me-list lagu-lagu anak dan menyadari bahwa terdapat makna tersembunyi di dalamnya.
A.T Mahmud, Ibu Sud, Papa T Bob, sesungguhnya kalian adalah pelopor kehidupan mbribik Indonesia. Pantas generasi saya jadinya kayak gini :))

Kupu-Kupu yang Lucu

Kupu-kupu yang lucu
Kemana engkau terbang
Hilir-mudik mencari
Bunga-bunga yang kembang
Berayun-ayun
Pada tangkai yang lemah
Tidakkah sayapmu
Merasa lelah
Kupu-kupu yang elok
Bolehkah saya serta
Mencium bunga-bunga
Yang semerbak baunya
Sambil bersenda-senda

Semua kuhampiri
Bolehkah kuturut

Kupu-kupu adalah analogi untuk pria yang hobi mbribik sana-sini. Tangkai dan Bunga adalah analogi untuk wanita yang dibribik. Lagu ini menganalogikan laki-laki yang suka mbribik wanita, biasanya yang lemah, tanpa mengenal lelah. Kupu-kupu ini sangat genit, senang mencium bunga-bunga, dan semua dihampiri. Oke. Lagu ini nge-troll.

Balonku

Balonku ada lima
Rupa-rupa
warnanya
Hijau, kuning, kelabu
Merah muda dan biru
Meletus balon hijau DOR!
Hatiku sangat kacau
Balonku tinggal empat
Kupegang erat-erat

Balon merupakan representasi dari kekasih. Saya mau bilang itu cewek, nanti saya dibilang anti femisme. Tapi intinya lagu ini menggambarkan orang yang punya pacar banyak, istri banyak, atau suami banyak. Ketika salah satu pacarnya hilang, hatinya sangat kacau. Tapi untung dia masih punya empat kekasih lainnya, tentu saja kali ini akan dia jaga baik-baik. Pertanyaannya? Kenapa harus hijau sih yang meletus? Apakah jika menjadi orang yang go green dan cinta lingkungan kita jadi yang pertama dieliminasi? 
Oke. Ini jayus.

Cicak di Dinding

Cicak-cicak di dinding
Diam diam merayap
Datang seekor nyamuk
Hap ... lalu ditangkap

Cicak merupakan representasi dari seseorang yang sukanya diam-diam dalam mbribik. Dari luar terlihat tenang, tapi sebenarnya dia sedang menyusun rencana untuk mbribik. Begitu target sudah terkunci, HAP! Lalu ditangkap! Iya, orang seperti cicak ini tidak akan tinggal diam melihat kesempatan yang ada di depan mata!

Kebunku

Lihat kebunku
Penuh dengan bunga
Ada yang putih,
Dan ada yang merah
Setiap hari
Kusiram semua
Mawar melati,
Semuanya indah!

Si gardener ini adalah seorang pembribik yang handal. Dia punya banyak bribikan disana-sini. Prinsipnya, rawatlah semuanya, karena dia bingung memilih, semuanya indah sih. Maka, setiap hari kusiram semua! Bravo!

Layang-layang

Kuambil buluh sebatang
Kupotong sama panjang
Kuraut dan kutimbang dengan benang
Kujadikan layang-layang
Bermain berlari
Bermain layang-layang
Berlari kubawa ke tanah lapang
Hatiku riang dan senang

Strategi tarik ulur dalam membribik digambarkan dengan ciamik di lagu ini. Orang yang suka menarik ulur hubungan tentu memiliki pertimbangan macam-macam. Kupotong sama panjang, kutimbang dengan benang. Tentu saja dia bahagia, dibawa ke tanah lapang, bermain, bersenang-senang. Weits, tunggu saja sebentar lagi dia akan bikin kamu mabuk kepayang!

Naik-Naik Gunung

Naik - naik, ke puncak gunung
tinggi - tinggi sekali
Naik - naik, ke puncak gunung
tinggi - tinggi sekali
Kiri - kanan kulihat saja
banyak pohon cemara
Kiri - kanan kulihat saja
banyak pohon cemara

Punya teman yang pemilih? Tentu saja, standarnya tinggi sih, bayangin seleranya aja tinggi sampai ke puncak gunung. Tapi sayangnya, tiap ada pilihan di depan mata dia cuma ngeliatin, nggak berani ngedeketin. Agak menyebalkan juga buat yang diliatin, dikira mau mbribik, eh ternyata cuma dilirik doang. Tapi susah juga, kalo gini caranya, kapan dapetnya ya dia?

Menanam Jagung

Ayo kawan kita bersama
Menanam jagung di kebun kita
Ambil cangkulmu ambil pangkurmu
Kita bekerja tak jemu-jemu

Cangkul cangkul cangkul yang dalam
Tanah yang longgar jagung kutanam
Beri pupuk supaya subur
Tanamkan benih dengan teratur
Jagungnya besar lebat buahnya
Tentu berguna bagi semua
Cangkul cangkul aku gembira

Menanam jagung di kebun kita

Kata orang, relationship itu harus dirawat. Lagu ini mendeskripsikan istilah itu! Satu, harus bersama-sama, jangan sendirian. Terus cangkul sekuat tenaga, jangan menyerah. Namun, beri pasanganmu ruang dan privasi, kelonggaran, supaya hubungan tidak menjadi jenuh. Jangan lupa diberi pupuk supaya hubungan itu berkembang. Dan tentu saja yang penting teratur, alias konsistensi supaya hubungan tersebut senantiasa awet. Jika semua sudah dilakukan, semua akan gembira, asyik!

Aku Seorang Kapiten

Aku seorang Kapiten
Mempunyai pedang panjang
Kalau berjalan prok-prok-prok
Aku seorang Kapiten

Pedang, adalah simbol bagi seseorang yang rela berjuang dan berkorban. Seorang Kapiten akan penuh percaya diri memperjuangkan cintanya. Jika ingin menikah, nikahilah seorang Kapiten! Karena… pedangnya panjang.
Oke, kalau kalian ngeres, yang satu ini bisa agak failed.

Naik Kereta Api

Naik kereta api ... tut ... tut ... tut
Siapa hendak turut
Ke Bandung ... Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma
Ayo temanku lekas naik
Keretaku tak berhenti lama
Cepat kretaku jalan ...tut...tut...tut
Banyak penumpang turut
K'retaku sudah penat
Karena beban terlalu berat
Di sinilah ada stasiun
Penumpang semua turun

Hidup memang berat apalagi untuk orang-orang yang pacarnya banyak, tapi sayangnya nggak ada yang awet. Kereta api ini adalah analogi sosok tersebut. Kemana dia singgah, pasti ada yang dipacarin. Cepat cepat jadian, sayangnya keretaku tak berhenti lama, soalnya dia orangnya cepat bosan. Keretaku terus berjalan, tapi lama-lama dia penat terus menerus berganti penumpang. Dia menunggu cepat sampai di stasiun, karena stasiun adalah tempat hatinya akan berhenti. *asyik unyu*

Jadi, termasuk lagu anak yang manakah kamu? :D

Gusti.... bisa buat judul skripsi nggak ini? Representasi Kehidupan Cinta Remaja dalam Lagu Anak Indonesia. Menurut ngana? -__-

Tuesday, May 22, 2012

Ponsel Baru Bombi

Posted by Sarah Karinda at Tuesday, May 22, 2012 2 comments Links to this post

Hai, namaku ponsel.
Aku sedang sedih nih.
Pemilikku, Bombi, sedang menangis sekarang.
Bombi sebenarnya adalah seorang anak yang periang, namun sekarang ia sedang sedih.
Kalian mau tahu nggak kenapa?

Jadi begini,
Bombi punya ayah yang sibuuuuuuuuk sekali.
Ayah Bombi jarang bisa bermain dengan Bombi.
Makanya, ayah Bombi memberikan aku kepada Bombi supaya ayah bisa berbicara dengan Bombi kapan saja walaupun ia sedang tidak berada di dekat Bombi.
Selain itu, ayah juga berpesan padaku, ”Ponsel, kamu harus bisa menemani Bombi ya, supaya ia tidak kesepian...”
Aku mengangguk. Aku berjanji pada ayah Bombi untuk menjadi teman Bombi ketika ayah tidak ada.


Teman-teman Bombi iri pada Bombi. Mereka semua selalu memandangku dengan penasaran. Aku tahu, mereka semua ingin punya ponsel seperti Bombi.
Tentu saja dong! Aku kan keren banget. Hargaku mahal, dan aku bisa dipakai untuk menelepon, mengirim pesan singkat, internet, dan juga, bermain game!
Nah, Bombi paling suka bermain game. Bombi suka bermain game di depan teman-temannya sampai mereka semua iri.
Tentu saja! Ada banyaaaaak banget permainan yang aku miliki. Ada tembak-tembakan, ada balap mobil, pokoknya apa saja ada deh. Tembak-tembakan adalah permainan favorit Bombi, biasanya ia akan main tembak-tembakan ketika sedang marah atau sedih.
Aku merasa aku sudah sangat berjasa bagi Bombi. Bombi pasti sangat membutuhkanku.

Sampai suatu ketika, aku tahu, Bombi sebenarnya sedang merasa sangat sedih.
Kamu mau tahu kenapa?
Ketika tiba saatnya pulang sekolah, Bombi melihat teman-temannya dijemput oleh Ayah mereka. Tidak hanya itu, ayah teman-teman Bombi lalu membelikan mereka es krim dan permen lolipop.
Dan kamu tahu tidak apa yang Bombi lakukan ketika tiba saatnya pulang sekolah?
Bombi menatapku, lalu menekan tombol-tombol di tubuhku, dan menelepon sopir untuk menjemputnya. Bombi menelepon sopir, bukan ayah.

Ayah Bombi nggak pernah punya waktu untuk menjemput Bombi, ia terlalu sibuk bekerja.
Ketika Bombi ingin juga dibelikan es krim dan permen lolipop, sopirnya hanya menjawab, ”Di rumah ada banyak, Bombi. Bombi bisa pilih apapun yang Bombi mau.”
Saat itulah biasanya Bombi lalu kembali memainkan game tembak-tembakan yang ada di ponsel. Ia sangat sedih.


Lagi-lagi Bombi lalu menatapku muram.
Bombi tahu, Bombi nggak bisa marah sama ayah. Karena Bombi tahu, ayahnya bekerja untuk Bombi.
Bombi kemudian berkata, ”Ponsel, ponsel bisa nggak berubah menjadi ayah?”
Aku tentu sedih mendengarnya. ”Tapi Bombi, kalau aku berubah menjadi ayah, nanti kamu nggak bisa lagi bermain game, menelepon, mengirim pesan, dan bermain internet seperti biasa yang selalu bisa membuat teman-temanmu iri dan kagum.”
”Bombi maunya ayah. Bombi nggak mau ngomong sama ayah lewat kamu. Bombi ingin ketika pulang sekolah, Bombi bertemu dengan ayah, dan bukannya dengan kamu. Bombi ingin, ketika Bombi sedang marah dan sedih, Bombi bertemu dengan ayah, dan bukannya dengan kamu. Kamu nggak bisa membelikan Bombi es krim dan permen lolipop.”


Aku sedih sekali.
Bombi lalu berkata lagi, ”Ponsel, ponsel bisa bilang nggak sama ayah, kalau Bombi kangen sama ayah?”
Aku mengangguk. Aku sayang banget sama Bombi, dan aku akan membuktikan kalau aku menyayanginya.
Aku lalu mengirim pesan ke ayah Bombi,
Ayah, Bombi kangen banget sama ayah. Bombi ingin ayah memberikan sedikit waktu ayah buat Bombi. Bombi senang dengan ponsel Bombi, tapi Bombi lebih senang kalau ayah ada untuk Bombi. Bombi ingin bermain dengan ayah. Bombi sayang ayah!”

Pesan itu tak berapa lama kemudian telah terkirim ke Ayah.
Dan aku lalu tahu, aku harus pergi dari kehidupan Bombi.
Aku merusakkan diriku sendiri, karena aku tahu, belum waktunya bagi Bombi untuk berteman denganku saat ini.
Aku percaya, Bombi nggak akan sedih karena nggak bisa lagi bermain game dan bermain internet. Ayah Bombi akan menghibur Bombi, ayah Bombi jauh lebih keren daripada aku.
Ketika Bombi dewasa kelak, aku akan bertemu lagi dengan Bombi. Dan aku yakin saat itu adalah saat yang tepat buat Bombi untuk kembali menjadi sahabatku.
Sampai jumpa Bombi! :)

 Nah, kalian pasti juga sayang kan dengan ayah kalian?
Kalau kalian sayang ayah kalian, tuliskan semua itu di bawah ini, maka ponsel akan menyampaikan pesan kalian pada ayah kalian!
 *tulisan lama  dari kelas Dasar-Dasar Penulisan,  Desember 2009
Ilustrasi: Dindadari Arum Jati, Self, Stockphotos
Coloring: Self 

Monday, May 21, 2012

Terima Kasih, Cici Paramida!

Posted by Sarah Karinda at Monday, May 21, 2012 2 comments Links to this post

I actually have no idea what to write today.
Ini jam setengah sepuluh malam dan saya lagi pusing ngerjain tugas strategic planning bareng Manda dan Intan di rumah. Sampai tiba-tiba ada suara ketukan horor di jendela kamar saya. Berkali-kali. Nggak berhenti-berhenti.
Kami, tiga wanita alim cantik baik-baik dan lemah lembut yang tadinya sibuk ngomongin insight dan communication objective whatsoever itu spontan mendadak diam. Cep! Berpandangan satu sama lain seakan berkata astaga-kita-bertiga-sama-sama-belum-menikah-tolong-jangan-apa-apain-dulu-mas-hantu-atau-mas-psikopat-please!
SEHARUSNYA…. YA. SEHARUSNYA. Hal normal yang dilakukan oleh tiga gadis cantik jika sedang berada di kondisi seperti kami ini adalah segera keluar kamar, memanggil adik cowok saya yang lagi nonton bola di ruang tengah dan meminta dia mengecek siapa yang dengan horornya mengetuk jendela saya. Adek saya menonjok orang iseng itu. Kyaa, kami selamat, dan adik kami jadi pahlawan.
Tapi… dasarnya kami ini adalah salah satu golongan-golongan manusia anti mainstream, maka tebak apa yang dilakukan teman saya, Putri Amandhari alias Manda untuk mengatasi ketegangan.
Dia menyalakan I-Tunes-nya dan menyetel, Jangan Lama-Lama by Cici Paramida.
Epic.
Dilanjutkan: Bunga – Om Sera.
Volume Full.
Suasana horor mendadak failed.

Dan ajaibnya, gedoran gedoran misterius di jendela kamar saya mendadak berhenti. Menakjubkan.
Mungkin kalau dia hantu, si hantu langsung ilfil merasa nggak level nakut-nakutin tiga gadis cantik yang selera musiknya…. *nggak usah dilanjutin*
Mungkin kalau dia mas-mas psikopat ala Sumanto atau Ryan Jombang, dia langsung nggak minat membunuh dan memakan daging kami. Ya gimana napsu denger lirik “Jangaan, tunggu lama-lama, nanti lama-lamaaa, aku diambil oraaaaaang… Uwwh~”
Sumanto kemudian mbantin, “Baru ini ada cewek mau dimakan malah bilang jangan lama-lama… malah nggak sabaran gitu.”
Ryan Jombang kemudian mbatin, “Baru ini ada cewek mau diperkosa malah bilang jangan lama-lama, nanti aku diambil oraang… Segitu ngebetnya pengen diperkaos. Nggak jadi ah. Nggak menantang.”

Hikmah yang didapat malam ini: Selalu simpan lagu dangdut di playlist kalian. Selain mendukung gerakan cinta lagu anak bangsa, lirik-liriknya memotivasi dan bisa menjadi pelipur lara ketika sedang galau, ternyata lagu dangdut juga bisa menyelamatkan nyawa kalian. Allahu Akbar!

Saya punya banyak lagu-lagu dangdut di playlist saya. Sebodo amat, tapi lagu-lagu dangdut sangat menghibur. Saya bahkan berencana membuat album kompilasi berjudul “Pelipur Lara” yang isinya lagu-lagu dangdut.
Simak salah satu lirik lagu Rhoma Irama – Stress.
 Stresss… Kerap melanda manusiaaa tak perduli miskin ataupun kayaaaaa… terlalu sibuk kerja bisa bikin stress, nganggur terlalu lama juga bikin stress, kekasih main gila, bisa, bisa stress, kenakalan remaja bisa bikin stress, Lapangkan dada benahi masalah kepada, Tuhan, Panjatkan doa, tawakkallah dan sabarlah…. Stress... (stress...) Obatnya iman dan taqwa Serta mensyukuri apa adanyaaaa…”

Mampus. Ngena banget kan liriknya. Modyar.
Saya inget banget download lagu ini malem-malem jam tiga pagi jaman begadang buat ujian Perencanaan Media Iklan. Pandu, salah satu temen cowok saya, yang sama-sama lagi begadang ngerjain tugas, tiba-tiba nge-YM saya dan dengan selonya nyuruh saya download dua lagunya Rhoma Irama. Stress sama Viva Dangdut.
Dan saya (begonya) nurut-nurut aja.
Saya sukses ketawa-ketawa sendiri depan laptop di depan jendela tugas yang masih menganga minta dikerjain waktu itu. Persis kayak orang stres.
Tapi saya nggak pernah menyesali keputusan saya mendownload lagu ini. Trust me, it’s relieving.

Ohya, satu lagu epic yang bisa didownload, terutama buat cewek-cewek adalah Manis Manja – Bete. Percayalah, iramanya luar biasa dan liriknya menohok.

Sar, sehat?
*merasa ada yang salah dengan pergaulan saya setelah selesai menulis tulisan ini*

Btw, tentang siapa yang ngetok-ngetok pintu jendela saya, masih menjadi misteri sampai saat ini. Semoga tidur saya malam ini dilindungi Allah. Amin.

Untuk Intan dan Manda yang saat ini berada di sebelah saya.
 

kotakpermenkaret Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez