Thursday, May 30, 2013

Is This Love?


I love you. In some other way yang bahkan aku tidak bisa jelaskan bagaimana.
Memangnya kamu tahu apa tentang cinta, Astri?
Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak bisa mendefinisikan perasaan apakah ini. Is this love? Or is it just another crush?
Yang aku tahu, aku menyukai cara kamu memarahiku ketika aku ketiduran di depan laptop gara-gara melembur kerjaan.
Yang aku tahu, aku menyukai bagaimana kamu melindungiku dengan sweater abu-abumu ketika aku menggigil kedinginan dalam perjalanan di suatu malam yang pekat.
Yang aku tahu, aku menyukai bagaimana kamu selalu semangat bercerita tentang mimpi-mimpimu, obsesimu, dan juga kegemaran anehmu yang berlebihan dengan Indomie goreng telur.
Kadang-kadang kamu hanya datang lalu duduk nonton tivi, sementara aku sibuk dengan iPhone dan laptopku. Orang bilang, kami pasangan aneh karena alih-alih ngobrol, kami justru sibuk dengan gadget masing-masing.
Aku bilang, ini kasta tertinggi kenyamanan. When we can enjoy each other silence. Cukup kamu berada di sampingku, dan aku merasa tenang setelah itu.
Sungguh. Sesederhana itu.
Aku juga selalu suka caramu berbicara dengan logat Melayumu yang aneh. Yang kata mama kayak ngedengerin orang Malaysia ngomong.
Aku suka dengan bentukmu yang kusut sepulang kerja dengan kemeja yang ujungnya sudah keluar semua. Dasi yang sudah longgar. Dan mata panda.
Lalu aku akan menghiburmu dengan segelas Nutrisari dingin. Dengan es batu yang banyak. Kemudian kamu akan nyengir senang seperti anak kecil mendapat es krim.
Kadang-kadang aku kesal karena kamu suka tidak peka dengan kode-kode yang aku lemparkan ketika aku marah dan sebal ke ke kamu. Kamu biasanya cuma bisa diam lalu minta maaf karena kamu malas berdebat. How dare you!
Tapi tahukah kamu, the best part-nya adalah ketika kita berhasil menyelesaikan pertengkaran kita, aku menjadi semakin mencintaimu. Dan aku tahu, itulah yang membuat pertengkaran kita tidak useless.
Kadang, ada saat-saat kamu putus asa dan sedih. And it hurts me so much in the same way. Tapi yang bisa kulakukan, hanya mendukung, karena aku tahu, kamu kuat dan kamu akan selalu bisa menghadapi itu semua.
Is this love?
Aku masih tidak tahu. Bagaimana bisa aku tahu, aku bahkan tidak mengerti sebenarnya apakah definisi cinta itu sesungguhnya.
Tapi cuma kamu orang yang bisa menenangkanku hanya dengan sebaris pesan di ponsel.
Hanya kamu orang yang tahu aku sedang PMS di saat aku sendiri tidak menyadari itu.
Hanya kamu yang bisa membuatku merasa ini yakin… dan ragu, di saat yang sama.
Hanya kamu jugalah yang membuatku merasa bahwa aku dibutuhkan. Aku merasa kamu butuh aku untuk melengkapi hidupmu.
And so do I.
Detik ini, di bawah kerlip jutaan bintang di landscape padang rumput di Lembang, mendadak flashback semua kisah yang sebelumnya telah kita lalui, terekam kembali di ingatanku.
Semua terlalu mengejutkan, aku bahkan lupa untuk bertanya dimana kamu mendapatkan tempat seindah ini.
Kamu, ada di depanku, dengan wajah gugup tidak terkira, menatapku kebingungan.  “Astri, ini udah romantis belum?”
Aku bengong sesaat. Lalu terbahak. “Nggak, sih, Ram. Cuman lumayan pening juga kamu dua jam nutup mata aku pake saputangan.”
“Eh maaf… Maaf…” ia mendadak panik.
Aku kembali terbahak. “Rama, Kamu lucu banget deh.”
“Oke, Astri. Aku mau serius, kamu jangan ketawa ya.” Ia merubah posisi duduknya benar-benar menghadapku. “Astri, setiap aku tanya ke kamu, apakah kamu sayang sama aku, kamu selalu jawab, kalo menurutmu ini bentuk kasih sayang, ya nikmati. Kalau bukan, silahkan mencari bentuk kasih sayang yang sesuai dengan keinginan kamu.”
Ia menatapku, melanjutkan kalimatnya. “Kamu itu emang ribet. Nanya sayang apa nggak aja dijawabnya ala filsafat gitu. Susah emang sayang sama kamu.”
“Tapi anehnya, As. Aku suka kamu gituin. Aku menikmati bentuk sayang yang kamu kasih ke aku. Dan bagiku, itu cukup. Kamu segalanya buat aku. Dan cuma bentuk kasih sayang dari kamu lah yang aku ingin nikmati sampai aku tua nanti. Kita tua. Bareng-bareng.”
I want that. I want it so much. Aku juga pengen kita bisa bersama-sama memberikan kasih sayang ini untuk seorang manusia kecil yang baru, yang akan bisa jadi simbol kasih sayang kita ini.”
“Jadi… Astri… Hidup sama aku ya? Bareng-bareng. Ketawa bareng. Bertengkar bareng. Karena, aku sadar, aku cuma mau bertengkar sama kamu.”
“Kamu mau nggak, bertengkar, cuma sama aku, sampe kita tua nanti?”
Lalu Rama mengeluarkan sebuah kotak mungil dari sakunya. Dan mengeluarkan sebuah cincin.
“Nabungnya empot-empotan nih buat beli ini.” ia nyengir. Ya nggak usah diomongin juga sih Ram, ngerusak momen aja.
Aku masih bengong. Seumur-umur nggak pernah aku membayangkan dilamar pake kata ‘mau nggak bertengkar sama aku sampe tua.’ Ini Rama otaknya emang geser.
Tapi, entah kenapa, setelah itu tiba-tiba mataku terasa pedas, sebelum akhirnya pandanganku mengabur karena mataku melamur penuh air mata. Dan yang bisa kulakukan cuma memegang kedua tangannya sambil mengangguk.
Aku tak sanggup berkata-kata.
Aku memeluk Rama, lalu ia memasangkan cincin itu di jariku. Aku memandangnya penuh haru.
So, kalau kamu bertanya? Oh, jadi cinta itu seperti itu ya?
Bagiku, iya. Cinta ternyata memang seperti ini.
Tapi bagimu, belum tentu. Jangan pernah mencari yang sepertiku, karena belum tentu kamu akan menikmatinya seperti aku dan Rama menikmati ini.
Selamat menemukan cintamu masing-masing :)


Buat Atta. 
Selamat menemukan cinta :)






No comments:

Post a Comment